KATEGORI

Aman,S.Pd,MM, Pengusul Ranperda Pelestarian Seni Budaya Melayu

image

 

Batam- Otonomi daerah memberikan kewenangan dan keleluasaan kepada daerah untuk mengatur daerahnya sesuai dengan ciri dan 

karakteristik masing-masing daerah. Konseskuensi dari hal ini, daerah dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam 
mengelola dan menyelenggarakan pemerintahan daerah. 
Aman,S.Pd,MM, Pengusul Ranperda Pelestarian Seni Budaya Melayu menyampaikan pada Rapat Paripurna Ke-2 Masa Sidang I Tahun 
Sidang 2017, Senin 18/0/2017. Peraturan daerah merupakan salah satu instrumen kebijakan dalam mendukung dan melaksanakan 
pemerintahan daerah. Salah satu variabel sebuah peraturan daerah disebut berkualitas adalah apabila peraturan daerah tersebut mampu menangkap peluang dan potensi daerah dan kemudian mengaturnya dalam sebuah regulasi yang memungkinkan 
peluang dan potensi daerah tersebut dapat berkembang dan bermanfaat pada pembangunan dan kemajuan daerah. Atas spirit tersebut maka, kami, pengusul Ranperda Pelestarian Seni Budaya Melayu memandang perlu Kota Batam memiliki sebuah peraturan daerah yang menjadi payung hukum bagi pelaksanaan pelestarian seni budaya melayu di Kota Batam.


Lebat daun si bunga tanjung Berbau harum bunga cempaka Adat dijaga seni dijunjung Bumi melayu pasti berjaya. Pada kesempatan yang sangat mulia ini izinkan kami  menyampaikan latar belakang  dan arti pentingnya sebuah budaya bagi jati diri suatu bangsa dan masyarakat. Dengan demikian  kita akan lebih mengetahui histori dan perjalanan kehidupan dari 
masa ke masa yang dilalui oleh masyarakat terdahulu hingga akhirnya kita bisa memetik kesimpulan dan menimbulkan kearifan dalam menyikapi khasanah kekayaan berupa seni dan budaya hasil karya yang monumental yang menjadi peninggalan para leluhur kita. 
Identitas budaya bangsa indonesia identik dengan kemelayuan, dan kemelayuan kita tidak lain adalah ke-indonesiaan. Akan tetapi, terpaan pengaruh kebudayaan asing di era globalisasi dewasa ini sangat kuat dan dominan,  hampir di semua aspek kehidupan bermasyarakat. Bahkan, semua aspek kehidupan kita sehari-hari telah dijangkiti dengan sangat mendalam oleh pengaruh cita rasa asingSeperti selera makanan (kuliner), selera pakaian, selera bentuk arsitektur rumah, selera musik, dan bahkan selera berbahasa. Demikian pula dalam perlakuan manusia timur terhadap keseniannya, banyak kesenian yang tergadai untuk kepentingan bisnis turis semata, sehingga ritual menjadi pseudo ritual, kemas mengkemas menjadi habitual (kebiasaan), tanpa terasa kehancuran dan kepunahan akan muncul. Kondisi ini memiliki istilah sebagai disaster of culture (bencana budaya) sehingga local genius tertentu dapat saja hilang, berganti dengan local genius barat. Kita patut bercermin pada jepang. Perlakuan bangsa jepang terhadap budayanya sangatlah proporsional. Bangsa jepang mampu 
menyetarakan hitech dengan local genius bangsanya, bagi mereka hidup di zaman hitech tidak berarti harus lari dari local genius yang mereka miliki. Sekalipun dalam keadaan terpaksa local genius mereka ditawarkan untuk turis, tapi harganya sangat mahal. 
Jika dahulu, Batam   merupakan konsentrasi pemukiman nelayan dan petani kebun, kini berubah menjadi kawasan industri, jasa, pabrik-pabrik, perkantoran, dan hotel hotel, bahkan lapangan golf yang hanya bisa ditonton dari luar pagar oleh penduduk setempat yang jauh sebelumnya adalah pemilik lahan. Pulau-pulau kecil menjadi lokasi berdirinya villa, resort, atau hotel-hotel berkelas dunia dan hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya seperti pengunjung dari Malaysia dan Singapura. (hms)

 

Mon, 18 Sep 2017 @17:36


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+5+5

Copyright © 2017 SEKRETARIAT DPRD KOTA BATAM · All Rights Reserved